Gue dilamar di panggung festival 2 tahun lalu.
Bukan panggung kecil. Panggung utama. Headliner internasional. Band-nya lagi break 10 menit, tiba-tiba lampu sorot ke tengah crowd, naik ke panggung—eh, itu mantan gue.
50 ribu orang nonton.
Dia berlutut. Buka kotak cincin. Mic di tangan. Suaranya pecah: “Will you marry me?”
Gue nangis. Iya. Crowd teriak. Lampu sorot bikin muka gue kepanasan. Band-nya bantuin: “SHE SAID YES!”
Video itu 12 juta views di Twitter. 5 juta di TikTok. 3 juta di Instagram. Reupload berkali-kali. Ada yang pake backsound lagu romantis. Ada yang pake suara efek slowmo.
Satu tahun kemudian kami cerai.
Sekarang, videonya masih dikomen orang.
“Ih dulu nonton ini sampe nangis, eh taunya cerai.”
“Mungkin emang udah jodohnya bukan dia.”
“Capek deh percaya romantis-romantisan.”
Gue baca komen itu tiap minggu. Kadang ditandain temen. Kadang muncul di fyp.
Dulu gue kaget. Sekarang? Gue cuma scroll lewat.
Tapi dalam hati: lo pikir gue nggak sedih?
Romantis Atau Cari Panggung Gratis?
Masalah #1: Susah bedain mana yang tulus, mana yang butuh penonton.
Dulu gue yakin dia tulus. Matanya berkaca-kaca. Suaranya bergetar. Dia bilang: “Gue pengen dunia tau kalo gue milih lo.”
Sekarang gue mikir: apa dia pengen dunia tau, atau pengen dunia liat?
Rhetorical question: Kalo cuma berdua di restoran, apakah rasanya kurang cukup?
Jawabannya: cukup. Tapi nggak ada yang nonton.
Festival kasih dia 50 ribu saksi. YouTube kasih dia 12 juta views. Komentar, like, share, repost. Validasi massal. Itu lebih besar dari sekadar “iya”.
Common mistake #1: Lo pikir publikasi = komitmen. Padahal publikasi cuma eksibisi. Komitmen itu yang lo lakuin pas kamera mati.
Kasus Spesifik #1: Viral 2023, Cerai 2024, Jadi Bahan Konten Ulang 2026
Yuni & Adit. 2023: Adit lamar Yuni di bioskop. Sebelum film mulai, layar putih tiba-tiba muncul video montage. 3 menit. Akhirnya Adit turun ke depan layar, berlutut. 200 orang nonton.
Viral. 8 juta views. Dijadiin inspirasi konten lamaran se-Indonesia.
2024: cerai. Yuni buka suara: “Dia sibuk jadi konten. Hubungan kita dikit-dikit direkam. Aku capek.”
2026: video mereka dipake lagi. Akun curation nostalgia: “5 Lamaran Paling Viral 2023, No 1 Bikin Nangis!”
Yuni komen: “Ini aku. Udah cerai.”
Dapet 12 ribu likes. Dan 500 balasan: “Ya ampun, kasian.”
Data point #1: Observasi fiktif media sosial: 60% video lamaran viral yang diunggah 2022-2024, pasangan di dalamnya sudah tidak bersama di 2026. Bukan karena sial. Tapi karena tekanan jadi publik figur dadakan.
Common mistake #2: Lo pikir viral = restu alam semesta. Padahal viral cuma algoritma lagi baik. Restu itu urusan lo berdua, bukan netizen.
Kasus Spesifik #2: Yang Bertahan Karena Malu Cerai
Dina & Riko. Lamaran di konser Dewa 19. 2024. Riko naik panggung, Ariel kasih mic. Viral.
Sekarang mereka masih bareng. Tapi Dina cerita ke gue: “Kalo jujur, gue udah capek dari tahun lalu.”
Gue: “Kenapa cerai?”
Dina: “Malu. Semua orang nunggu kabar bahagia kita. Kalo cerai, mereka bakal bilang: ‘ih, romantis-romantis taunya cerai’.”
Diem.
“Kadang gue iri sama pasangan yang lamaran biasa aja. Kalo bubar, cuma keluarga dan temen yang tau.”
Data point #2: Survei fiktif Psikologi UI: 34% pasangan yang lamarannya viral mengaku merasa terjebak dalam hubungan. Bukan karena cinta. Tapi karena ekspektasi publik.
Common mistake #3: Lo pikir publikasi mengikat dia. Padahal publikasi juga mengikat lo. Susah lepas kalo semua orang lagi nonton.
Kasus Spesifik #3: Yang Baru Sadar—Dia Lamar Gue, Bukan Crowd
Gue inget, habis acara itu, kami duduk di pinggir lapangan. Capek. Sepatu penuh debu.
Gue: “Kok lo bisa ya ngomong di depan 50 ribu orang?”
Dia: “Gue grogi. Tapi mikir: gue ngomong sama lo. Mereka cuma nebeng nonton.”
Dulu gue mengartikan itu romantis.
Sekarang? Gue malah mikir: Lo ngomong sama gue. Tapi kenapa harus 50 ribu orang nebeng?
Kenapa nggak cukup berdua?
Rhetorical question: Kapan terakhir lo liat pasangan romantis di TikTok, terus lo inget mereka 1 tahun kemudian?
Lo lupa. Kita semua lupa. Yang nempel cuma momennya, bukan orangnya.
Jadi, Cowok Lamaran Di Panggung Itu Romantis Atau Cari Panggung Gratis?
Jawabannya: bisa dua-duanya.
Ada yang tulus, ada yang demen sorotan. Bedanya tipis, tapi efeknya besar.
Romantis kalo:
- Lo udah bahas nikah sebelumnya, panggung cuma seremoni
- Lo masih bahagia ngobrol berdua tanpa kamera
- Lo nggak takut kalo videonya nggak pernah diupload
Cari panggung gratis kalo:
- Lo baru bahas lamaran seminggu sebelumnya—biar momen
- Lo sibuk cari angle kamera pas lagi berlutut
- Lo lebih sering nonton komentar daripada liat mata pasangan
Gue Sekarang: Masih Dikomen, Tapi Udah Damai
2 tahun. 12 juta views. 1 perceraian.
Gue udah hafal pola komentarnya:
- Minggu 1-4: “OMG ROMANTIS BANGET”
- Bulan 2-6: “SEMOGA LANGENG YA”
- Bulan 7-12: “KOK UDAH JARANG POSTING?”
- Tahun 1: “KABARNYA GIMANA?”
- Tahun 1,5: “IH TAU DEH CERAI.”
- Tahun 2-sekarang: “DULU NANGIS, TERNYA GAK BERTAHAN.”
Dulu gue kesel. Sekarang? Gue cuma ketawa.
Karena gue tau: mereka nggak nge-judge gue. Mereka cume nge-judge versi 2 menit dari hubungan 3 tahun.
Mereka nggak tau gue begadang nungguin dia sakit. Mereka nggak tau gue nangis di kamar mandi pas dia lupa anniversary. Mereka nggak tau gue capek jadi “pemenang” yang harus terus bahagia.
Yang mereka tau cuma: cowok berlutut, cewek iya, lampu sorot, background lagu galau.
Itu bukan cerita kami. Itu cuplikan.
Fenomena ‘Viral Cowok Lamaran Di Atas Panggung Festival’ itu kayak trailer film. Seru. Bikin penasaran.
Tapi trailer bukan filmnya. Dan banyak film yang trailernya lebih bagus dari isinya.
Checklist: Lo Mau Dilamar Di Tempat Ramai Atau Diem-Diem?
Pilih ramai kalo:
- Lo udah siap jadi konsumsi publik—baik-buruk, awet-nggak, semua orang bakal ngomentarin
- Lo dan pasangan udah bahas mateng, panggung cuma formalitas
- Lo bisa bedain antara momen romantis dan konten romantis
Pilih diem-diem kalo:
- Lo gak tahan dibanding-bandingin sama pasangan viral lain
- Lo pengen nikmatin momen tanpa mikir angle kamera
- Lo tau bahwa cinta itu kerja 24/7, bukan cuma 2 menit di panggung
Kesimpulan: Romantis Itu Yang Nggak Butuh Saksi
Gue nggak nyesel pernah dilamar di panggung festival.
Itu momen yang bikin gue ngerasa dicintai—meskipun ternyata cintanya gak cukup panjang. Tapi gue belajar: romantis itu bukan tentang seberapa banyak orang yang nonton. Tapi seberapa banyak lo rela ada, bahkan saat nggak ada yang merekam.
Sekarang, kalo gue liat video lamaran viral di TikTok, gue nggak langsung bilang “ih, romantis”.
Gue cuma mikir: “Semoga mereka ngobrol lebih sering daripada ngecek like.”
Karena komentar cuma bertahan 3 hari. Tapi hubungan harus bertahan tiap pagi, tiap malem, tiap bangun tidur dan liat orang yang sama.
Mudah-mudahan mereka kuat.
Gue? Gue udah lelah jadi tontonan.
Sekarang gue cuma pengen jadi orang biasa. Dicintai biasa. Nggak perlu viral.